1.10.13

Teori Skinner

Seperti John Watson (1931), Skinner percaya bahwa psikologi dapat menjadi sains hanya melalui studi perilaku. Berbeda dengan Watson, Skinner mempelajari jenis perilaku yang lain-perilaku yang tidak secara otomatis dipicu oleh stimulus tertentu.

Dalam definisi Skinner, ia mencetuskan konsep reinforcement (penguatan) dan punishment dimana ketika individu mendapatkan salah satu konsep tersebut, dipercayai dapat meningkatkan perilaku individu sehingga perilaku itu sendiri dapat dibentuk. Para ahli percaya bahwa penerapan teori Skinner lebih bermanfaat pada anak-anak, sedangkan pada orang dewasa penerapannya kurang bermanfaat. Pemberian reinforcement dan punishment harus konsistem dimana Skinner memunculkan jadwal pemberian reinforcement sbb: fixed interval, fixed ratio, variable interval dan variabel ratio. Pemilihan jadwal interval disesuaikan pada masing-masing kasus individu dan harus dilakukan secara teratur.

Contoh dari teori Skinner:
Saya menyuruh seorang anak untuk berbicara di depan kelas dan ketika ia merespon dengan berbicara di kelas, saya beri permen kepadanya (reinforcement/penguatan). Aktivitas ini selalu saya ulang tiap minggu sehingga lama kelamaan, tanpa diberi permen pun, anak tersebut akan berbicara di depan kelas dengan sendirinya.

Skinner dan proses belajar di kelas
Pembentukan perilaku dikelas pertama-tama membutuhkan spesifikasi yang jelas untuk perilaku yang akan dipelajari. Kedua, keterampilan awal (entry skill) dari pemelajar harus diidentifikasi. Kemudian pokok pelajaran harus diprogram secara hati-hati dengan langkah bertahap sehingga pengajarannya bisa menjamin kesuksesan tindakan. Alat mekanis yang disebut mesin pengajaran dikembangkan oleh Skinner untuk mengajarkan mata pelajaran yang terprogram.

Guru kelas dapat menggunakan teknologi dari Skinner melalui 3 cara :
  • Menggunakan stimuli diskriminatif dan penguatan dalam interaksi dikelas secara tepat
  • Mengimplementasikan langkah – langkah pembentukan di dalam pengajaran
  • Menyusun materi pelajaran yang diindividualisasikan

No comments:

Post a Comment